Label

Senin, 21 Januari 2013

Wujud Kecintaan dalam Perayaan Maulid Nabi



Bulan Rabiul Awal menjadi istimewa dengan kelahiran Rasulullah SAW di dalamnya. Rasulullah Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmatan lil-‘alamin. Beliau dilahirkan pada bulan tersebut, yaitu tepatnya pada tanggal 12 yang saat itu jatuh pada hari Senin. Hingga kini, bulan ketiga dalam kalender Hijriyah tersebut pun juga lebih dkenal dengan blan Maulud (kelahiran Nabi).

Sejarah telah mencatat keutamaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu, segenap jagad alam raya gegap gempita menyambut kelahiran Sang Kekasih Allah SWT. Malam itu merupakan malam terindah bagi para makhluk. Di dalam kitab Fathul-Bari al-Mansyurdijelaskan, “Utsman bin Abil Ash ats-Tsaqafi menceritkan dari ibunya yang menjadi pembantunya Aminah, bunda Nabi SAW, ‘ketika bunda Nabi mulai saat-saat melahirkan, ia (ibu Utsman) melihat bintang-bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan di atas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang tersebut hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah.’” Bahkan dalam riwayat sahih Ibnu Hibban dan Hakim, cahaya yang terang benederang tersebut hingga membuat pandangannya menembus dan melihat istana Romawi.

Runtuhnya singgasana Kaisar Kisra, padamnya api sesembahan di kekaisaran Persia yang 1000 tak pernah padam dan semua berhala di sekitar Kabah tiba-tiba roboh, merupakan isyarat akan runtuhnya kemungkaran di dunia. Nabi SAW yang telah dijanjikan dan dikabarkan kepada umat-umat sebelumnya telah datang.

Dari itulah, ada hal yang mulia jika kelahiran paling utamanya makhluk dapat kita rayakan. Inilah yang menjadi salah satu bentuk ekspresi dalam mencintai Rasulullah SAW. Apalagi batutlah bagi kita semua untuk mensyukuri dan gembira itu memang diajurkan bagi setiap orang yang mendapat anugerah dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT, “Katakanlan (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian.” (QS. Yunus: 58). Dalam ayat ini, kita jelas disuruh untuk bergembira dengan adanya rahmat Allah SWT. Sedangkan Nabi Muhamad SAW adalah rahmat atau anugerah Allah SWT yang tiadataranya. Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya’: 107).

Sudah menjadi kelumrahan bahwa umat Islam pada setiap bulan Maulid, khususnya di Indonesia, senantiasa memperingati kelahiran Sang Nabi Akhir Zaman. Dalam merayakannya, umat Islam memiliki beberapa cara, baik cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pambacaan salawat Barzanji dan pengajian-pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi Muhammad SAW menghiasi bulan-bulan itu, terutama pada malam tanggal 12, yaitu malam kelahiran Nabi SAW. Semua itu merupakan wujud syukur dan kecintaan kepada Sang Rasulullah SAW.

Sayid Muhamad Alawi al-Maliki mengatakan, “Pada pokoknya, berkumpul untuk mengadakan Maulid Nabi SAW merupakan sesuatu yang sudah lumrah terjadi. Tapi, hal itu termasuk kebiasaan yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang (akhirnya) kembali kepada umat sendiri dengan beberapa keutamaan (di dalamnya). Sebab, kebiasaan seperti itu memang dianjurkan oleh syara’ sacara parsial (bagian-bagiannya).” (Mafahin Yajibu an Tushahhah: 224).

Hal ini diakui oleh Ibnu Taimiyah. “Orang-orang yang melaksanakan Maulid Nabi SAW akan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga ditemukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Nabi Isa. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum Muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan.” (Manhajus-Salaf li Fahmin-Nushush Bainan-Nazhariyyah wat Tathbiq: 339).

Perayaan maulid tersebut pada dasarnya sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Rasulullah SAW yang menjadi pelopornya. Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Senin. Maka, beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim). Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Allah SWT yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk puasa.

Maka dari itulah, sudah sepantasnya kita sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW juga turut mengikuti teladan beliau. Semua yang telah dianugerahkan kepada kita merupakan buah pengorbanan dan perjuangan Rasulullah SAW. Dalam kitabnya, al-Mawahibul-Ladiniyyah, Imam al-Hafizh al-Qasthalaniy berkata, “Maka Allah akan menurunkan rahmat-Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai hari besar.” Lantas sekarang, tergantung kita mau atau tidak mendapatkan keutamaan yang besar? Abu Lahab yang sudah dicap ahli neraka saja masih mendapatkan ‘dispensasi’ hanya karena bergembira karena kelahiran Rasulullah SAW, apalagi kita..!!!

*) Sumber tulisan: Majalah Laziswa SIDOGIRI,
    edisi-43, hal. 3-5, Januari, 2013 M.

Senin, 14 Mei 2012

Tanda-Tanda Kiamat

Membaca Tanda-Tanda Kiamat
Kiamat (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Hari kiamat pasti terjadi. Hanya saja, kapankah peristiwa itu akan berlangsung? Allah SWT sajalah yang mengetahui.

Tak ada satu pun makhluk di alam semesta, termasuk malaikat, yang mampu memprediksikan waktu kiamat. Bahkan, Nabi Muhammad SAW yang menjadi kekasih-Nya pun tidak diberi informasi yang jelas.

Hal tersebut ditegaskan Allah dalam surat Al-A’raf ayat 187. “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat, kapankah terjadinya? Katakanlah sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat hanya ada pada sisi Tuhanku. Tiada seorang pun yang mengetahui waktu kedatangannya selain Dia.”

Tidak dapat dimungkiri bahwa kita saat ini hidup di akhir zaman. Berbagai peristiwa telah mengisyaratkan bahwa bumi semakin tua. Cuaca semakin tidak menentu dan sulit diprediksi. Berbagai bencana, seperti gempa bumi, gunung meletus, badai, dan banjir kerap terjadi di berbagai penjuru dunia. Ini ditambah dengan gejala pemanasan global (global warming) yang makin mengkhawatirkan.

Dalam kehidupan sosial, berbagai kejadian memilukan juga sering terjadi akhir-akhir ini. Misalnya pembunuhan, pemerkosaan, perang saudara, korupsi, dan berbagai bentuk kebejatan moral lainnya. Hal tersebut melanda di berbagai penjuru dunia. Banyak yang mengatakan berbagai kejadian tersebut merupakan pertanda kiamat sudah dekat.

Dan memang, meskipun kiamat adalah suatu rahasia besar, tapi Allah memberikan sejumlah isyarat atau tanda kepada manusia bahwa saatnya telah dekat. Butuh kepekaan hati untuk bisa membaca tanda-tanda tersebut. Buku karya ulama besar Ibnu Katsir ini mengungkap banyak hal tentang kiamat. Antara lain, tentang tanda-tanda kedatangannya.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Segeralah beramal baik sebelum terjadi enam tanda kiamat. Yaitu, matahari terbit dari arah ia terbenam, Dajjal, asap tebal, satwa melata bicara (dabbah), petaka (kematian spesifik) perorangan, dan petaka umum (kiamat besar).” (HR Ahmad).

Dalam hadis lainnya Rasulullah menjelaskan, "Ada enam tanda kiamat. Yaitu kematianku, pembebasan Baitul Maqdis, kematian akibat penyakit di dada (wabah binatang), harta benda melimpah sehingga orang memberi 100 dinar masih membuat yang diberi marah, petaka menimpa semua rumah bangsa Arab dan gencatan senjata antara kalian dengan keturunan kuning (bangsa Romawi). Namun, mereka berkhianat dan menyerang kalian melalui delapan puluh panji, yang masing-masing dengan 12 ribu orang.”
Hal lain yang banyak dibicarakan orang terkait dengan kiamat adalah kemunculan Dajjal. Dalam Alquran dan hadis banyak digambarkan tentang Dajjal. Antara lain, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sehingga muncul 30 kaum Dajjal sang pendusta. Semuanya mengaku sebagai utusan Allah, harta benda melimpah, timbul banyak petaka, dan kekacauan merebak." Sahabat bertanya, ‘Kekacauan seperti apa?’ Beliau menjawab, ‘Pembunuhan, pembunuhan, dan pembunuhan."

Pembahasan tentang turunnya Nabi Isa juga dibahas panjang lebar dalam buku ini. Juga tentang kemunculan Ya’juj dan Ma’juj, satwa melata keluar dari bumi dan menyapa manusia, matahari terbit dari arah tenggelam, asap tebal yang mengepul di akhir zaman. Selain itu, juga tentang apa yang telah dan belum terjadi terkait tibanya saat kiamat dan gambaran umat akhir zaman. 

Judul                 : Kiamat Semakin Dekat
Penulis             : Ibnu Katsir
Penerjemah   : Luqman Junaedi
Penerbit          : Mutiara
Cetakan           : Pertama, Januari 2012
Halaman          : xii + 156


Redaktur: Chairul Akhmad

Kamis, 26 April 2012

Masuk Islam Karena “Bulan Pernah Terbelah” pada ayat Al-Quran

 
Allah SWT berfirman,
‘Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah. (Quran Surah Al-Qamar: Ayat 1)’.

“Apakah ayat dari surat al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah?” tanya seorang warga Inggris dalam sebuah acara di televisi bersama seorang pakar geologi Muslim, Prof Dr Zaghlul Al-Najar.
Jawab Zaghlul Al-Najar, “Mengenai ayat ini, saya akan ceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya di Universiti Cardif bagian barat Inggris dalam suatu forum bertemakan sekitar mukjizat ilmiah dari Al-Quran.

Peserta-peserta yang hadir terdiri dari berbagai keyakinan, ada yang Islam dan non- Islam. Seorang pemuda Islam berdiri dan bertanya, “Apakah menurut anda ayat yang berbunyi, ‘Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah’ – mengandung mukjizat secara ilmiah?”
“Tidak!” jawab saya. “Sebab, kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, kerana ilmu pengetahuan tidak dapat menjangkaunya.”

Dan tentang terbelahnya bulan, itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad SAW, sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana Nabi-nabi sebelumnya. Mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya.

Kiranya hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami kaum Muslimin di zaman ini tidak akan percaya hal tersebut. Tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Allah Ta’ala memang benar-benar Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
Maka, Prof Dr Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu terjadi sebelum hijrah Nabi dari Makkah Mukarramah ke Madinah…
“Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang dapat membuktikan kenabian dan kerasulanmu?” Kata orang-orang musyrik walaupun sebenarnya mereka mengejek dan mengolok-olok saja.
“Apa yang kamu maksud nak?” tanya Rasulullah pula.
“Coba belah bulan!?” Cabar mereka.

Rasulullah pun berdiri dan diam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka, Rasulullah pun mengikutnya. Dan benar-benar bulan itu terbelah dua!
“Muhammad! Engkau benar-benar telah menyihir kami!” Orang-orang musyrik itu tetap menolaknya.
Tetapi, para ahli di kalangan mereka mengatakan, sihir memang boleh terjadi kepada orang yang berada di kelilingnya, tapi tidak kepada yang tiada di situ. Lalu, orang-orang Quraisy itupun bergegas keluar menuju pinggir kota Makkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Bila datang rombongan pertama, mereka bertanya, “Apakah kamu lihat sesuatu yang aneh pada bulan?”
“Ya, memang ada! Pada malam yang lalu kami lihat bulan terbelah menjadi dua dan saling berjauhan, kemudian bersatu kembali…” jawab mereka.
Akhirnya, sebagian mereka pun beriman, sedangkan sebagian lainnya tetap juga kafir (ingkar). Oleh kerana itu, Allah SWT menurunkan ayat-Nya:

“Sungguh, telah dekat hari qiamat dan telah terbelah bulan. Ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ….” sampai akhir surat Al-Qamar.
“Ini adalah kisah benar!” Jelas Prof Dr Zaghlul Al-Najar, setelah selesainya bercerita bersama-sama ayat dan hadis tersebut.

Tiba-tiba bangun seorang Muslim Inggris yang juga memperkenalkan diri, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb al-Islamy England, bolehkah aku tambahkan sedikit?”
“Ya, persilakan dengan senang hati!”.
Daud Musa Pitkhok berkata…
“Aku pernah mengkaji agama-agama (sebelum menjadi Muslim), maka salah seorang mahasiswa Muslim menunjuk dan memberi sebuah terjemahan Al-Quran yang mulia. Aku pun berterima kasih kepadanya dan membawa terjemah itu pulang ke rumah.

Ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Quran itu di rumah, surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Aku pun membacanya, ‘Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…’.
Tergumam aku.. Apakah kalimat ini masuk akal? Mungkinkah bulan terbelah.. dan bersatu kembali? Kalau benar, kekuatan macam apa yang dilakukan? Aku pun berhenti membaca dan mulai sibuk dengan kehidupan sehari-hari.

Tetapi, Allah Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hambaNya dalam mencari kebenaran. Suatu hari aku pun duduk depan siaran televisi Inggeris. Saat itu terpapar sebuah diskusi di antara seorang pengacara Inggris dengan 3 orang pakar angkasawan AS.
Pakar-pakar tersebut menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke angkasa, di saat dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, wabah penyaklit dan perselisihan.
Kata pengacara itu, “Kalau dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih berguna lagi.”
“Projek angkasa ini memberi kesan yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik dari segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, tetapi justru dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.” Mereka tetap membela projek tersebut. Dan, perbincangan tersebut adalah mengenai penjejakan manusia di bulan, yang telah menghabiskan tidak kurang dari 100 juta dolar US.

“Kebodohan macam apa lagi.. dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk dapat mendarat di bulan?” tanya pengacara itu lagi.
“Tidak!” balas mereka. “Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita diberikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia semata-mata, maka kami tidak akan berikan kepada siapapun!”
“Apa sebenarnya yang telah anda capai sampai begitu mahal taruhannya?”
Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan pada suatu ketika dulu kemudian menyatu kembali!!”
“Bagaimana kamu yakin hal itu?”
“Kami dapati secara pasti, batu-batu yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan…
Kami minta pakar geologi menelitinya dan kata mereka hal ini tidak mungkin terjadi, kecuali jika memang bulan itu pernah terbelah kemudian bersatu kembali” kata mereka.

Foto yang menunjukkan bukti bahwa dahulu bulan pernah terbelah
Mendengar paparan itu, aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad SAW 1400-an tahun yang lalu.
Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan kebenaran kaum Muslimin!
Agama Islam tidak mungkin salah..” Aku membuka kembali Mushhaf al-Quran dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam!!”
Itulah yang diceritakan oleh Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb al-Islamy England kepada Prof Dr Zaghlul Al-Najar yang menjawab pertanyaan seorang rakyat Inggris dalam temuramah di acara televisi seperti yang disebutkan.
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana! Semoga bermanfaat untuk kita. Billahit Taufiq Wal Hidayah, Wassalamualaikum warah matullah. Sekian.
Foto yang menunjukkan bukti bahwa bulan pernah terbelah (courtesy: NASA)
*****
-= IslamIsLogic.wordpress.com =-